21 September 2010
Percakapan Dengan Maut
"Kamu takut mati nggak?"
"Aku nggak takut mati"
"Kenapa kamu nggak takut sama aku?"
"Untuk apa takut sama kamu?
Memangnya kamu siapa?"
"Aku adalah malaikat pencabut nyawa"
"Memangnya ada malaikat semacam itu?"
"Iya, saya adalah malaikat itu!"
"Katanya hanya Tuhan yang bisa mencabut nyawa, bukan malaikat."
"Saya adalah malaikat yang diutus oleh Tuhan"
"Dan saya adalah nabi yang diberi ilham oleh Tuhan. Memangnya saya percaya sama kamu?"
"Saya diutus untuk mencabut nyawamu"
….
"Saya tidak percaya sama kamu!"
"Saya tetap akan mencabut nyawamu"
…
"Kalau begitu
saya tidak akan mengijinkan kamu untuk mencabut nyawaku!"
"Kenapa?"
"Karena saya belum mau mati"
"Katanya kau tidak takut mati"
"Memang tidak"
"Berarti saya akan mencabut nyawamu"
"Tapi kamu tidak bisa mencabut nyawaku"
"Ya, saya bisa"
"Tidak bisa!"
"Saya bekerja untuk Tuhan, saya bisa mencabut nyawamu"
"Tidak bisa! Tidak sekarang! Hidup saya belum ada artinya, jadi kamu tidak boleh mencabut nyawaku sekarang."
-cheryl, 210908 @ Bandung-
"Aku nggak takut mati"
"Kenapa kamu nggak takut sama aku?"
"Untuk apa takut sama kamu?
Memangnya kamu siapa?"
"Aku adalah malaikat pencabut nyawa"
"Memangnya ada malaikat semacam itu?"
"Iya, saya adalah malaikat itu!"
"Katanya hanya Tuhan yang bisa mencabut nyawa, bukan malaikat."
"Saya adalah malaikat yang diutus oleh Tuhan"
"Dan saya adalah nabi yang diberi ilham oleh Tuhan. Memangnya saya percaya sama kamu?"
"Saya diutus untuk mencabut nyawamu"
….
"Saya tidak percaya sama kamu!"
"Saya tetap akan mencabut nyawamu"
…
"Kalau begitu
saya tidak akan mengijinkan kamu untuk mencabut nyawaku!"
"Kenapa?"
"Karena saya belum mau mati"
"Katanya kau tidak takut mati"
"Memang tidak"
"Berarti saya akan mencabut nyawamu"
"Tapi kamu tidak bisa mencabut nyawaku"
"Ya, saya bisa"
"Tidak bisa!"
"Saya bekerja untuk Tuhan, saya bisa mencabut nyawamu"
"Tidak bisa! Tidak sekarang! Hidup saya belum ada artinya, jadi kamu tidak boleh mencabut nyawaku sekarang."
-cheryl, 210908 @ Bandung-
pantesan gue gendut!
Aku ingin berlari
Tapi aku tidak ingin berlari
Lari itu melelahkan
Kamu suka lari?
Aku ngga suka lari
Lari itu melelahkan
Kamu mau nemenin aku?
Aku ngga mau lari sendirian
Lari itu melelahkan
Aku ngga mau lari
Kamu mau lari untuk aku?
Lari itu melelahkan
Aku ngga mau lari
Tapi aku mau lari
Lari itu memang melelahkan
Aku ngga mau lari lagi
Lari itu melelahkan
Aku mau jalan aja
Tapi aku tidak ingin berlari
Lari itu melelahkan
Kamu suka lari?
Aku ngga suka lari
Lari itu melelahkan
Kamu mau nemenin aku?
Aku ngga mau lari sendirian
Lari itu melelahkan
Aku ngga mau lari
Kamu mau lari untuk aku?
Lari itu melelahkan
Aku ngga mau lari
Tapi aku mau lari
Lari itu memang melelahkan
Aku ngga mau lari lagi
Lari itu melelahkan
Aku mau jalan aja
Cerita Nona dan Kunang-Kunang
Semua itu dikatakan dengan sempurna
“Aku jatuh cinta.”
“Aku mencintaimu.”
Disanalah dia berdiri dengan kokoh, misterius, sangat nyata, tersenyum, penuh resiko, berbahaya, tidak tersentuh. Bagaimana menentang itu semua? Esensi yang pahit muncul dan melilit di dalam dada. Partikel terkecil antusiasme datang menemani buah terlarang.
Tempat ini dipenuhi kebekuan dan kesunyian menunggu seseorang dengan khidmat.
Hey Nona! Seperti yang Sartre tulis: “ Tidak ada yang telah diputuskan, tidak akan ada yang diputuskan.”
Nona harus menyingkir, berlari, menghilang, membenamkan diri dalam cahaya kunang-kunang dan kebisingan petir.
Lihatlah Nona.. Kunang-kunang tersenyum padamu
Dengarlah Nona.. Kunang-kunang berbicara padamu
Percayalah Nona.. Kunang-kunang akan membantumu
Nyatanya, diriku yang tak berwujud ini terpesona, tidak ada yang tersisa selain ketakjuban atas ketidakpastian.
Menghela napas, selalu terjaga menantikan cerita Nona.
“Aku jatuh cinta.”
“Aku mencintaimu.”
Disanalah dia berdiri dengan kokoh, misterius, sangat nyata, tersenyum, penuh resiko, berbahaya, tidak tersentuh. Bagaimana menentang itu semua? Esensi yang pahit muncul dan melilit di dalam dada. Partikel terkecil antusiasme datang menemani buah terlarang.
Tempat ini dipenuhi kebekuan dan kesunyian menunggu seseorang dengan khidmat.
Hey Nona! Seperti yang Sartre tulis: “ Tidak ada yang telah diputuskan, tidak akan ada yang diputuskan.”
Nona harus menyingkir, berlari, menghilang, membenamkan diri dalam cahaya kunang-kunang dan kebisingan petir.
Lihatlah Nona.. Kunang-kunang tersenyum padamu
Dengarlah Nona.. Kunang-kunang berbicara padamu
Percayalah Nona.. Kunang-kunang akan membantumu
Nyatanya, diriku yang tak berwujud ini terpesona, tidak ada yang tersisa selain ketakjuban atas ketidakpastian.
Menghela napas, selalu terjaga menantikan cerita Nona.
Subscribe to:
Posts (Atom)





